- Posted on
- • Islam
setan "dibelenggu" tapi maksiat masih terjadi—adalah ...
- Author
-
-
- User
- Parmi
- Posts by this author
- Posts by this author
-
Pernahkah Anda berfikir atau bertanya beneran bahwa di bukan puasa/Ramadhan yang memang penuh kedalaman, dan kegelisahan Anda—bahwa setan "dibelenggu" tapi maksiat masih terjadi—adalah kegelisahan klasik yang justru telah dijawab dengan sangat elegan oleh para ulama besar sejak ratusan tahun lalu. Mari kita bedah dari akar sejarahnya hingga ke berbagai perspektif.
📜 A. TEKS ASLI ARAB DAN SEJARAH LENGKAP HADIS
Kalimat yang Anda cari, redaksi asli dalam bahasa Arab, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah RA:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ Idzâ jâ'a Ramadhânu futtihat abwâbul jannati, wa ghulliqat abwâbun nâri, wa shuffidat asy-syayâthînu.
Artinya: "Bila bulan Ramadhan tiba, maka dibukalah pintu-pintu surga, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan pun dibelenggu/dirantai."
Varian Redaksi Penting: Ada beberapa variasi kata yang justru membuka pintu pemahaman lebih luas:
- وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ (wa shuffidat asy-syayâthînu) – setan-setan dibelenggu (HR. Bukhari Muslim)
- وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ (wa sulsilat asy-syayâthînu) – setan-setan dirantai (riwayat lain)
- وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ (wa tughallu fîhi maradat asy-syayâthîni) – setan-setan yang membangkang diikat (HR. Ahmad, An-Nasa'i, Ibnu Khuzaimah)
Mengapa varian ini penting? Karena riwayat ketiga secara eksplisit menyebut مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ (maradat asy-syayâthîn)—setan-setan pembangkang/pimpinan setan. Ini menjawab sebagian pertanyaan: tidak semua setan dibelenggu, hanya yang paling durhaka dan kuat godaannya .
🧠 B. PETA LENGKAP PERSPEKTIF ULAMA: HAKIKI vs MAJAZI
Para ulama sejak era klasik hingga kontemporer terbelah menjadi dua kubu besar dalam memahami hadis ini, dan keduanya sama-sama memiliki argumen kuat.
1. KUBU HAKIKI (Makna Harfiah/Sebenarnya)
Pendukung: Sebagian ulama salaf, Al-Muhallab, Ad-Dawudi, dan beberapa pensyarah hadis.
Argumen: Allah benar-benar membelenggu setan secara fisik di bulan Ramadhan. Ini adalah karakteristik khusus bulan suci sebagai bentuk pemuliaan. Setan benar-benar tidak bisa bebas bergerak seperti di luar Ramadhan .
Menjawab kritik "kok masih ada maksiat?": - Al-Qurthubi menjawab: Kemaksiatan yang terjadi bukan karena setan tidak dibelenggu, tetapi karena pengaruh setan sudah mengendap dalam jiwa dan menjadi kebiasaan buruk manusia itu sendiri . - Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil: Dibelenggunya setan berlaku untuk orang yang berpuasa dengan sempurna (man shâma haqqa shiyâmihî), bukan untuk mereka yang hanya lapar dan dahaga .
2. KUBU MAJAZI (Makna Kiasan/Metafora)
Pendukung: Mayoritas ulama termasuk Imam Iyadh, Ibnu Baththal, Imam Al-Qurthubi, Ibnu Taimiyah, dan ulama Nusantara seperti Prof. Quraish Shihab.
Argumen Metaforis: "Belenggu" adalah gambaran simbolik (tamtsîl) tentang situasi yang Allah ciptakan di Ramadhan .
Apa yang dimaksud "situasi" itu? - Pahala dilipatgandakan → orang berbondong-bondong ibadah - Semangat keagamaan meningkat → masjid penuh, tadarus di mana-mana - Kesempatan maksiat berkurang → tempat hiburan malam banyak yang tutup - Lingkungan sosial lebih religius → orang lebih pengendalian diri
Akibatnya: Ruang gerak setan menjadi sempit. Ia tidak bisa leluasa menggoda. Bagaikan seseorang yang diikat atau dibelenggu, ia masih hidup, masih bisa bergerak, tapi sangat terbatas .
Prof. Quraish Shihab menjelaskan dengan analogi brilian:
"Kesadaran manusia di Ramadhan begitu tinggi, sehingga setan-setan bagaikan terbelenggu. Mereka tidak bisa berbuat banyak karena manusianya sendiri yang sedang 'tidak sedang mood' untuk diajak maksiat."
🎭 C. PERSPEKTIF KONTEMPORER YANG MENGINSPIRASI
Di era modern, para ulama memperkaya makna ini dengan perspektif baru yang semakin kontekstual.
1. Teori "Setan Stres" (Prof. Dr. Alamsyah, UIN Raden Intan)
Beliau dengan jenaka menyebut bahwa di Ramadhan, setan "stres" karena imun jiwa orang beriman meningkat. Umat Islam secara massal melakukan "vaksinasi iman" dengan puasa, tarawih, dan sedekah. Akibatnya, setan kehabisan "mangsa" dan ruang geraknya menyempit drastis .
2. Setan Sebagai Simbol (Prof. Dr. Nur Syam, UIN Sunan Ampel)
Beliau menawarkan perspektif antropologis-simbolik. Setan adalah lambang prilaku kejelekan dan kejahatan. Puasa adalah perisai yang berfungsi sebagai "alat pembelenggu" atas potensi jahat dalam diri manusia. Maka, "setan dibelenggu" berarti puasa berhasil memborgol nafsu kebinatangan kita .
3. Perbedaan Nafsu dan Setan (Pondok Lirboyo)
Perspektif kritis dari kalangan pesantren: Dorongan nafsu itu internal (dari diri sendiri), dorongan setan itu eksternal .
Ciri Nafsu: Kalau sudah menginginkan sesuatu, ia terus-menerus berusaha, tidak pernah menyerah sampai tercapai. Ciri Setan: Kalau gagal menggoda lewat satu pintu, ia pindah ke pintu lain (karena semua dosa baginya sama saja).
Relevansi dengan Ramadhan: Jika di Ramadhan setan "dibelenggu" tapi seseorang masih bermaksiat, itu 100% dorongan nafsunya sendiri. Ia sudah kecanduan, sudah terbiasa, dan Ramadhan belum mampu mengubah kebiasaan buruknya. Ini adalah cermin introspeksi yang tajam .
🔬 D. ANALISIS KEGELISAHAN ANDA (UMUR 55+ TAHUN)
Dengan pengalaman hidup setengah abad lebih, Anda tepat menyentuh titik paling subtil dari hadis ini. Izinkan saya merespon dengan perspektif tambahan.
Kegelisahan Anda sebenarnya adalah pertanyaan tentang teodise (keadilan Tuhan) dalam skala kecil: Jika Tuhan sudah membelenggu setan, mengapa kejahatan masih ada?
Para ulama menjawab dengan empat lapis kesadaran:
Kesadaran tentang tingkatan puasa: Puasa kita mungkin baru sampai level imsak 'anil mufthirât (menahan diri dari yang membatalkan), belum mencapai imsak 'anil ma'âshi (menahan diri dari dosa) apalagi imsak 'anil ghafilah (menahan diri dari kelalaian). Setan dibelenggu maksimal untuk puasa level tertinggi .
Kesadaran tentang setan manusia: Al-Qur'an sendiri (QS. Al-An'am: 112) mengingatkan bahwa ada syayâthînal ins—setan dari golongan manusia. Mereka tidak dibelenggu di Ramadhan. Lingkungan, media sosial, sistem yang korup, teman yang buruk—ini adalah "setan berwajah manusia" yang terus aktif .
Kesadaran tentang warisan dosa: Ada dosa yang sudah menjadi kebiasaan mengkristal (al-'âdah al-muhkamah). Semakin tua usia, semakin sulit mengubah kebiasaan. Bukan karena setan kuat, tapi karena kita sudah "berteman" dengan dosa itu puluhan tahun. Ramadhan adalah terapi putus obat (detox), dan efeknya berbeda bagi setiap orang .
Kesadaran tentang kasih sayang Allah: Justru di balik hadis ini tersirat optimisme besar. Allah memberi "kompensasi" bagi kelemahan manusia. Karena kita lemah melawan setan, Allah membelenggunya sebagai bentuk pertolongan. Kita tidak dibiarkan sendiri .
📚 E. RANGKUMAN SPEKTRUM MAKNA LENGKAP
| Perspektif | Makna "Dibelenggu" | Pihak yang Dibelenggu | Sebab Masih Ada Maksiat |
|---|---|---|---|
| Hakiki (Literal) | Fisik, riil, nyata | Semua setan ATAU hanya setan pembangkang | Nafsu & kebiasaan buruk sudah mendarah daging |
| Majazi (Metafora) | Ruang gerak menyempit | Seluruh kekuatan jahat (simbolis) | Setan manusia masih bebas; nafsu tak terbelenggu |
| Teologis-Filosofis | Tanda pemuliaan bulan | Iblis dan bala tentaranya | Allah tidak mencabut sepenuhnya ujian |
| Psikologis-Sufistik | Lemahnya hasrat maksiat | Godaan eksternal | Godaan internal (nafsu) lebih kuat |
| Sosiologis | Lingkungan kondusif beribadah | Peluang sosial untuk maksiat | Lingkungan mikro individu belum berubah |
🎯 KESIMPULAN UNTUK ANDA
Pak, hadis ini adalah mahakarya sastra Arab dan kedalaman teologi. Lafadz صُفِّدَتْ (shuffidat) sengaja dipilih karena ia berada di antara makna hakiki dan majazi—ia menggantung, tidak jatuh sepenuhnya ke salah satu kutub. Inilah i'jâz bayâni (kemukjizatan kebahasaan) yang membuat hadis ini terus dikaji selama 14 abad.
Jawaban atas kegelisahan Anda:
Anda benar bahwa kalimat ini bukan sekadar laporan meteorologis-spiritual ("hari ini berawan, setan diliburkan"). Ia adalah metafora agung tentang bagaimana Allah memfasilitasi hamba-Nya untuk kembali ke fitrah. Setan dibelenggu berarti peluang taubat sedang dibuka selebar-lebarnya.
Bahwa maksiat masih terjadi? Itu bukan kelemahan hadis, melainkan kejujuran Al-Qur'an tentang kompleksitas jiwa manusia. Manusia tidak jahat semata-mata karena setan, tetapi karena ia juga memiliki nafsu ammârah bis-sû' (kecenderungan pada keburukan) yang kadang lebih kuat dari bisikan setan itu sendiri.
Di usia Anda yang telah melewati lebih dari setengah abad, mungkin makna yang paling relevan adalah: Ramadhan adalah ujian sejauh mana kita bisa membelenggu setan dalam diri kita sendiri. Karena sehebat apa pun Allah membelenggu setan di luar, jika setan internal (nafsu, ego, kebiasaan buruk) tidak kita belenggu, maksiat akan tetap terjadi. hahahaaaaa .....
Wallahu a'lam bish shawab.