Parmi Notes Random short any article
Posted on
BUMI
Author

Satu kata, sejuta harapan! Hilal memang menjadi "selebritas" mendadak setiap kali mendekati Ramadan atau Idul Fitri. Mari kita bedah fenomena ini dengan bahasa yang santai tapi tetap akurat secara sains.


1. Apa itu Hilal? (Bahasa Sederhana)

Secara gampangnya, Hilal adalah bulan sabit muda yang sangat tipis. Ia muncul sesaat setelah Matahari terbenam.

Bayangkan siklus bulan: dari Bulan Mati (gelap total), lalu muncul lengkungan cahaya super tipis seperti benang. Nah, lengkungan pertama itulah yang disebut Hilal. Ia adalah penanda sah bahwa bulan kalender Hijriah berganti.

2. Sisi Astronomi: Apakah Sudah Masuk Bulan Baru?

Secara astronomi, pergantian bulan dimulai dengan peristiwa bernama Konjungsi (Ijtima'). Ini adalah saat Bumi, Bulan, dan Matahari berada di garis bujur yang sama.

  • Sudah masuk bulan baru? Secara matematis-astronomis, jika konjungsi sudah terjadi sebelum matahari terbenam, maka "janin" bulan baru sudah ada.
  • Namun, tantangannya adalah apakah "janin" ini sudah cukup besar untuk menampakkan diri (visibilitas) atau masih terlalu dekat dengan silau matahari.

3. Pengamatan Sore Ini: Akankah Hilal Terlihat?

Untuk menentukan apakah Hilal akan terlihat nanti sore di Indonesia, kita harus melihat dua data utama: Ketinggian Hilal dan Elongasi (jarak sudut antara Bulan dan Matahari).

Berdasarkan data astronomi untuk wilayah Indonesia saat ini (tergantung tanggal spesifik hari ini di tahun 2026), peluang terlihatnya Hilal sangat bergantung pada kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

4. Mengapa Harus di Atas 3 Derajat? (Bukan 2 Derajat lagi)

Dulu, Indonesia memang menggunakan kriteria 2 derajat. Namun, sejak tahun 2022, standar diubah menjadi lebih ketat.

Mengapa batasnya naik?

  • Gangguan Cahaya Syafak: Saat matahari terbenam, langit masih sangat terang (jingga/merah). Jika hilal terlalu rendah (misal cuma 1 atau 2 derajat), cahaya tipisnya akan "tenggelam" oleh sisa cahaya matahari.
  • Faktor Atmosfer: Di dekat cakrawala, atmosfer bumi sangat tebal dan penuh debu/uap air. Ini membuat benda langit yang sangat rendah sulit terlihat secara optik.
  • Kriteria Baru: Sekarang batasnya adalah Tinggi minimal 3 derajat dan Elongasi minimal 6,4 derajat. Angka ini diambil dari rekam jejak pengamatan empiris yang dianggap paling mungkin untuk benar-benar bisa dilihat mata atau teleskop.

5. Arab Saudi vs Indonesia: Sama atau Beda?

Kemungkinan besar akan ada perbedaan, atau setidaknya pengamatan di Arab Saudi sering kali selangkah lebih maju. Mengapa?

  1. Posisi Geografis: Arab Saudi terletak di sebelah barat Indonesia. Karena Bumi berputar dari barat ke timur, maka saat matahari terbenam di Arab Saudi, waktu sudah berselang sekitar 4-5 jam dari Indonesia.
  2. Ketinggian Hilal: Dalam waktu 4 jam tersebut, posisi Bulan sudah bergerak lebih tinggi menjauhi Matahari. Jadi, ada kemungkinan di Indonesia Hilal masih terlalu rendah (sulit dilihat), tapi saat matahari terbenam di Mekkah, Hilal sudah cukup tinggi untuk dilihat.
  3. Metode: Arab Saudi sering kali lebih mengandalkan laporan saksi mata (rukyah) secara fisik, sementara Indonesia mencoba menggabungkan hasil hitungan (hisab) dengan verifikasi lapangan (rukyah).

Kesimpulan: > Secara perhitungan, bulan baru mungkin sudah ada, tapi secara "penampakan", kita harus menunggu hasil sidang isbat nanti malam untuk memastikan apakah ia sudah melewati ambang batas 3 derajat atau belum.


Untuk wilayah Jakarta dan Indonesia secara umum, hari ini (Rabu, 18 Februari 2026) adalah momen yang sangat menarik karena terjadi perbedaan awal Ramadan antara pemerintah dan Muhammadiyah.

Berikut adalah detail kondisi Hilal khusus untuk sore ini:


1. Kondisi Hilal Sore Ini di Jakarta

Berdasarkan data astronomi untuk petang hari ini, Rabu, 18 Februari 2026:

  • Tinggi Hilal: Sudah sangat tinggi, yakni sekitar 8° hingga 10° di atas ufuk (tergantung lokasi tepatnya di Jakarta).
  • Elongasi: Sudah mencapai sekitar 10° hingga 12°.
  • Kesimpulan: Secara teknis, posisi ini sudah jauh melampaui kriteria MABIMS (3° tinggi & 6,4° elongasi). Jadi, jika langit cerah tanpa awan tebal, Hilal akan sangat mungkin terlihat melalui teleskop maupun mata telanjang di Jakarta sore nanti.

2. Mengapa Puasanya Bisa Beda?

Ini yang sering bikin bingung. Kenapa Muhammadiyah sudah mulai puasa hari ini (Rabu), sedangkan Pemerintah baru mulai besok (Kamis)?

Pihak Dasar Keputusan Awal Ramadan 1447 H
Muhammadiyah Menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Jika hilal sudah terbentuk di belahan bumi mana pun (misal di Alaska atau Arab), maka seluruh dunia dianggap masuk bulan baru. Rabu, 18 Februari 2026
Pemerintah (Kemenag) Menggunakan kriteria MABIMS lokal. Pada Selasa sore kemarin, Hilal di Indonesia masih di bawah ufuk (minus derajat), sehingga bulan Syaban digenapkan menjadi 30 hari. Kamis, 19 Februari 2026

3. Penjelasan Batas 3 Derajat (Kriteria MABIMS)

Dulu memang 2 derajat, tapi sekarang Indonesia dan negara tetangga (Brunei, Malaysia, Singapura) sepakat menggunakan 3 derajat.

Kenapa harus 3 derajat?

  • Melawan Silau Matahari: Cahaya matahari yang baru terbenam menciptakan "polusi cahaya" alami di ufuk. Jika Hilal tingginya di bawah 3 derajat, cahaya sabitnya yang sangat tipis akan kalah terang oleh sisa cahaya senja.
  • Ketebalan Atmosfer: Semakin dekat ke garis laut (ufuk), atmosfer bumi semakin padat dengan debu dan uap air. Ini membuat objek langit terlihat kabur atau bahkan hilang. Batas 3 derajat dianggap sebagai "zona aman" di mana mata manusia punya peluang logis untuk membedakan mana cahaya Hilal dan mana gangguan cahaya lain.

4. Arab Saudi vs Indonesia

Tahun ini, Arab Saudi sudah mulai puasa hari ini (Rabu, 18 Februari 2026). Hal ini terjadi karena posisi geografis Arab Saudi yang berada di barat Indonesia. Saat matahari terbenam di Arab Saudi semalam (Selasa), posisi bulan di sana sudah lebih tinggi dan sudah memenuhi kriteria mereka untuk memulai Ramadan, sementara di Indonesia pada waktu yang sama, bulan masih "tenggelam" di bawah garis cakrawala.


Saran: Jika Anda mengikuti ketetapan Pemerintah, maka sore ini adalah waktu untuk melihat "Hilal besar" yang cantik, dan malam ini kita mulai melaksanakan Salat Tarawih pertama.