Parmi Notes Random short any article
Posted on
153'86

Berita DUKA - SRI SETYOWATI

Author

[9/2 14.21] HF: Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Innalillahi Wainnaillaihi Rojiuun

Telah berpulang ke Rahmatullah... Sahabat Kita Tercinta... Sri Setyowati, pada hari ini pukul 13 wib di R.S.U.D Pamulang. Rencana jenazah akan dimakamkan hari ini juga, saat ini sdg dipersiapkan untuk dibawa pulang ke rumah duka di : Perumahan Villa Dago Tol blok C3 no.3 pamulang.

Demikian berita duka cita ini kami sampaikan, Atas nama keluarga Almarhumah, kami ucapkan banyak terima kasih atas perhatian besar semua sahabat serta Do'a² baik yang telah dilangitkan, semoga Allah menerima segala amal ibadah dan mengampuni segala kekhilafan Almarhumah.

Aamiin Yaa Rabbal Alamiin 🤲

Dalam 1 minggu ini setidaknya 2 orang yang saya lihat wafat yang ada hubungan kekerabatan, pertemanan dll

MATI tak dapat dihindari baik di bahasa kan dengan berbagai pendekatan atau ekspresi maupun secara emosional apalagi ke Imanan.

Semoga anda yang sempat atau kebetulan membaca ini diberi umur yang berkah, meninggal suatu wafat dalam keadaan yang disebut "HUSNUL KHATIMAH", insyaAllah 🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻

================

Sebuah Artikel: Memahami Kematian – Sebuah Refleksi atas Kepergian Seorang Teman


Pendahuluan: Kehidupan yang Berubah dalam Sekejap

Hidup ini bagai aliran sungai, kadang tenang, kadang deras, namun pasti akan menuju muara. Baru-baru ini, saya mendapatkan kabar duka tentang kepergian seorang teman lama semasa SMP. Dia adalah sosok yang periang, bersemangat, rajin mengikuti kegiatan keagamaan (Islam), suka menyanyi, dan aktif berkumpul dengan komunitas ibu-ibu di lingkungannya. Di usia sekitar 55 tahun, dia pergi dengan tenang, meninggalkan kenangan manis bagi yang mengenalnya.

Satu tahun lalu, dia masih terlihat sehat, bahkan mungkin lebih bersemangat daripada saya. Namun, penyakit diabetes yang diidapnya—yang katanya bersifat keturunan—ternyata membawa konsekuensi yang tak terduga. Kepergiannya yang mendadak mengingatkan kita semua: kematian adalah satu-satunya kepastian dalam hidup yang penuh ketidakpastian.


1: Kematian sebagai Keniscayaan Universal

Kematian adalah hukum alam yang tak terelakkan. Setiap makhluk hidup, dari yang terkecil hingga manusia, akan mengalami akhir perjalanan hidupnya. Tidak ada yang tahu kapan, di mana, dan bagaimana maut akan datang. Kematian mengajarkan kita tentang kerapuhan hidup dan pentingnya menghargai setiap detik yang kita miliki.

Dalam kasus teman saya, diabetes yang diwariskan secara genetik menunjukkan betapa hidup ini juga dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar kendali kita. Namun, meskipun kita tidak bisa mengontrol takdir, kita bisa mengontrol bagaimana kita menjalani hidup sebelum ajal tiba.


2: Pesan dari Sebuah Kepergian – Hidup adalah Amanah

Teman saya adalah contoh seseorang yang menjalani hidup dengan penuh semangat dan ketaatan. Kegiatannya dalam bidang keagamaan dan sosial menunjukkan bahwa dia memaknai hidup sebagai amanah untuk berbuat baik dan berguna bagi sesama. Kematiannya mengajarkan kita bahwa yang tersisa setelah kepergian bukanlah harta atau jabatan, melainkan kenangan, doa, dan kebaikan yang pernah kita sebarkan.

Kita tidak pernah tahu kapan "waktu kita" akan tiba. Oleh karena itu, penting untuk selalu mempersiapkan diri dengan menjalani hidup secara bermakna: memperbaiki hubungan dengan sesama, berkontribusi positif bagi lingkungan, dan tentu saja, menyelaraskan hati dengan nilai-nilai spiritual yang kita yakini.


Bagian Khusus untuk Pembaca Muslim: Kematian dalam Perspektif Islam

Bagi umat Islam, kematian bukanlah akhir perjalanan, melainkan pintu menuju kehidupan yang abadi. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-‘Ankabut ayat 57:

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan."

Kematian adalah qadar (takdir) yang telah ditetapkan oleh Allah. Sebagai manusia, kita diperintahkan untuk berikhtiar menjaga kesehatan—seperti mengelola penyakit diabetes dengan pola makan, olahraga, dan pengobatan yang tepat—namun akhirnya, semua kembali kepada ketetapan-Nya.

Rasulullah SAW mengingatkan kita untuk selalu mempersiapkan kematian, karena ia bisa datang kapan saja. Sabdanya:

"Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (kematian)." (HR. Tirmidzi)

Teman saya yang rajin beribadah dan aktif dalam kegiatan Islam telah meninggalkan contoh tentang husnul khatimah (akhir yang baik). Semoga amal ibadahnya diterima dan dia ditempatkan di sisi Allah SWT.

Beberapa pelajaran penting: 1. Kematian pasti datang. Tiada seorang pun yang bisa lari dari takdir ini. 2. Hidup adalah ujian. Penyakit, kesehatan, suka, dan duka adalah bagian dari ujian untuk meningkatkan ketakwaan. 3. Amal adalah bekal. Hanya amal shaleh yang akan menemani kita di alam kubur dan akhirat. 4. Doa dan ikhtiar. Berdoa untuk perlindungan kesehatan, namun juga berikhtiar maksimal untuk menjaganya.


Penutup: Menghidupkan Kenangan, Mengambil Hikmah

Kepergian teman saya adalah duka yang mendalam, tetapi juga menjadi cermin bagi kita semua. Mari kita mengambil hikmah dari setiap kepergian:

  1. Jaga kesehatan sejak dini, apalagi jika ada riwayat penyakit keturunan seperti diabetes. Lakukan pemeriksaan rutin dan terapkan pola hidup sehat.
  2. Hidup dengan tujuan. Isi hari-hari dengan kebaikan, semangat, dan kontribusi positif, seperti yang dicontohkan oleh teman kita.
  3. Perkuat ikatan spiritual. Apapun keyakinan kita, kedekatan dengan Sang Pencipta memberikan ketenangan dalam menghadapi segala ketidakpastian.
  4. Ingatlah kematian. Bukan untuk membuat kita takut, tetapi untuk membuat kita lebih menghargai hidup dan segera memperbaiki diri.

Kematian mungkin mengakhiri sebuah kehidupan, tetapi tidak mengakhiri hubungan yang telah terbangun. Kenangan indah, tawa, dan kebaikan yang ditinggalkan oleh teman kita akan terus hidup di hati orang-orang yang mengenalnya.

Semoga kita semua diberikan kesadaran untuk memaknai hidup dengan lebih baik, dan ketika saatnya tiba, kita dipanggil dalam keadaan terbaik pula. Selamat jalan, teman. Terima kasih untuk pelajaran berharganya.

Artikel ini didedikasikan untuk mengenang seorang teman yang telah pergi, dan sebagai pengingat bagi kita semua tentang hakikat kehidupan yang fana.


Tentang Naluri dan Sifat Dasar Manusia: Titik Temu di Tengah Keberagaman

Di balik keragaman budaya, keyakinan, dan pengalaman, ada seperangkat sifat dasar dan naluri yang menjadi benang merah penghubung seluruh umat manusia. Sifat-sifat ini hadir dalam setiap individu yang sehat secara psikis dan mental, membentuk fondasi dari pengalaman manusiawi kita.

Naluri dan Sifat Dasar Manusia yang Universal:

  1. Naluri Mempertahankan Diri (Survival): Keinginan untuk tetap hidup, aman, dan terhindar dari bahaya adalah yang paling primitif. Ini mencakup rasa takut, kebutuhan akan makanan, air, tempat tinggal, dan rasa aman fisik.
  2. Naluri Sosial dan Keterhubungan: Manusia adalah makhluk sosial. Ada dorongan mendalam untuk berinteraksi, dicintai, diterima, dan memiliki rasa memiliki dalam suatu kelompok (keluarga, komunitas, persahabatan). Kesepian bertentangan dengan naluri ini.
  3. Keinginan untuk Dicintai dan Mencintai: Cinta dalam bentuknya yang luas—kasih sayang orang tua, ikatan pasangan, cinta pada anak, persahabatan—adalah kebutuhan psikologis mendasar, bukan sekadar keinginan.
  4. Rasa Penasaran dan Keinginan Belajar: Dorongan untuk memahami lingkungan, bertanya "mengapa", dan mencari pengetahuan. Inilah yang mendorong eksplorasi, ilmu pengetahuan, dan seni.
  5. Pengharapan dan Pencarian Makna: Manusia cenderung mencari makna di balik peristiwa, penderitaan, dan keberadaan mereka sendiri. Ini adalah fondasi dari spiritualitas, filsafat, dan nilai-nilai hidup.
  6. Perasaan Moral Dasar (Sense of Fairness): Hampir setiap manusia, sejak kanak-kanak, memiliki rasa dasar tentang "adil" dan "tidak adil", tentang berbagi dan balas budi. Ini adalah bibit dari kesadaran moral.
  7. Keinginan untuk Diakui dan Dihargai: Perasaan ingin dianggap bernilai, memiliki harga diri, dan diakui atas kontribusi atau keberadaannya.
  8. Kapasitas untuk Berempati: Kemampuan dasar untuk merasakan dan memahami apa yang orang lain rasakan, bahkan jika kita tidak mengalami hal yang sama persis. Ini adalah dasar dari kebaikan dan kasih sayang.
  9. Dorongan untuk Berkembang dan Berkarya (Aktualisasi Diri): Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, muncul dorongan untuk mewujudkan potensi, menciptakan sesuatu, dan meninggalkan warisan.

Doa-Doa Universal tentang Hidup dan Kehidupan Manusia

Doa-doa berikut merangkum pergulatan, harapan, dan penerimaan kita sebagai manusia, melampaui batas agama tertentu.

1. Doa untuk Kesadaran Hidup

"Ya, Sang Pemberi Nafas. Ajari kami untuk tidak hanya sekadar hidup, tetapi benar-benar *menghidupi. Beri kami mata untuk melihat keindahan dalam hal-hal kecil, hati untuk merasakan kedalaman dalam setiap hubungan, dan keberanian untuk merangkul seluruh pengalaman—suka, duka, dan kejutan hidup—sebagai guru yang membentuk jiwa kami. Bimbing kami agar tidak terjebak dalam rutinitas, tetapi selalu menemukan keajaiban dalam kesementaraan ini."*

2. Doa untuk Menerima Sifat Manusiawi Kita

"Ilahi, yang Maha Memahami. Kami ini lemah namun penuh keinginan, takut namun berharap, egois namun mampu berbagi. Terima lah kami dengan segala kontradiksi ini. Saat naluri takut kami membisikkan kekhawatiran, ingatkan kami pada naluri harapan. Saat keinginan untuk diakui membuat kami kecil hati, kuatkanlah naluri kami untuk mencintai tanpa syarat. Bantu kami merangkul seluruh spektrum kemanusiaan kami, bukan sebagai cela, tetapi sebagai bahan bakar untuk tumbuh lebih bijak dan lebih lembut."

3. Doa atas Keterhubungan dengan Sesama

"Sumber segala Ikatan. Ingatkan kami bahwa di balik wajah yang asing, ada hati yang juga mengenal rindu dan luka; bahwa di balik perbedaan pendapat, ada jiwa yang juga mencari kebenaran dan kedamaian. Tumbuhkan dalam diri kami empati yang tulus—naluri dasar kami untuk merasakan bersama. Hancurkan tembok prasangka dalam hati kami, dan gantikan dengan jembatan pengertian. Jadikan kami perajut perdamaian dalam keseharian kami."

4. Doa di Tengah Pencarian Makna

"O, Cahaya dalam Pencarian. Saat langkah kami terasa berat dan tujuan kabur, nyalakan kembali naluri penasaran dan pengharapan dalam diri kami. Bimbing kami untuk menemukan makna bukan hanya dalam kesuksesan besar, tetapi dalam kesetiaan pada hal kecil, dalam kejujuran di saat sepi, dan dalam kebaikan yang kami tebarkan tanpa nama. Wujudkan melalui tangan dan hati kami, karya yang bermakna bagi kehidupan."

5. Doa untuk Akhir Perjalanan yang Tenang

"Pengakhir yang Baik dari Semua Awal. Saat nafas kami berakhir dan pengalaman manusiawi ini berakhir, terimalah segala ketidaksempurnaan upaya kami. Kembalikan pada-Mu naluri mempertahankan diri kami, gantikan dengan penyerahan total. Pertemukan kami dengan ketenangan, dan biarkan cinta yang pernah kami beri dan terima menjadi satu-satunya bekal yang kami bawa. Lengkapi perjalanan kami dengan damai."


Penutup: Naluri sebagai Kompas Menuju Kemanusiaan yang Utuh

Sifat-sifat dasar ini bukanlah daftar prestasi, tetapi kompas batin. Mereka bisa terdistorsi oleh rasa takut, keserakahan, atau luka, tetapi mereka selalu ada di sana sebagai potensi.

Mengenalinya dalam diri sendiri adalah langkah pertama menuju pengertian diri. Melihatnya pada orang lain—sekali pun musuh—adalah langkah pertama menuju rekonsiliasi dan perdamaian. Merawatnya dengan bijak—dengan memenuhi kebutuhan fisik, mengasah empati, mencari makna yang konstruktif—adalah cara kita tidak hanya bertahan hidup, tetapi menjadi manusia seutuhnya.

Doa-doa kita adalah napas jiwa yang merangkul segala kompleksitas kompas batin ini, mengarahkannya pada cahaya, kebaikan, dan kedamaian yang lebih besar.


Sesungguhnya semua makhluk bernyawa akan mengalami masa dan waktu kematian, soal berikutnya dan PASTI itu adalah urusan yang menjadi pemilik atas hal itu ( alam semesta beserta apapun tanpa terkecuali), Tuhan Semesta Alam dan Waktu beserta Apapun dan Esa