Parmi Notes Random short any article
Posted on
albums

Persetan

Author

Ini sebuah ungkapan, yaitu kata "persetan", Silahkan PLAY banner di atas, jika ingin music Background/Auto playlist, semoga terhibur


Ungkapan Serupa “Persetan” dalam Bahasa Arab

Meskipun kata “persetan” dalam bahasa Indonesia berakar dari kata “setan”, ungkapan dengan makna ekspresif yang serupa — seperti menantang, mengabaikan, atau mengecam sesuatu — juga dapat ditemukan dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Arab. Makian atau seruan ketidakpedulian semacam ini bersifat universal, meski bentuk dan konteks penggunaannya berbeda-beda di tiap budaya.


1. Ungkapan untuk Mengabaikan atau Meremehkan

بالناقص (bil-nāqiṣ) Secara harfiah berarti “dengan yang kurang”. Ungkapan ini digunakan untuk menunjukkan bahwa seseorang tidak peduli jika sesuatu atau seseorang tidak lagi ada dalam hidupnya — karena dianggap tidak penting. Contoh: Jika seseorang terus menyulitkan Anda, Anda bisa berkata:

“Bil-nāqiṣ minnak” — Biar saja, saya tidak butuh kamu.

في ستين داهية (fī sittīn dāhiya) Secara harfiah berarti “ke enam puluh bencana” atau “ke enam puluh masalah”. Ungkapan ini jauh lebih kasar dan biasa digunakan untuk mengekspresikan rasa muak atau keinginan agar sesuatu atau seseorang “pergi dan tidak kembali.” Contoh: Ketika seseorang membuat kekacauan dan Anda sudah tidak tahan lagi, Anda bisa berkata:

“Fī sittīn dāhiya!” — Persetan dengan semua ini!


2. Ungkapan untuk Mengutuk atau Mengusir

إلى الجحيم (ilā al-jaḥīm) Secara harfiah berarti “ke neraka”. Ungkapan ini sangat mirip dengan frasa bahasa Inggris “go to hell”, dan memiliki kekuatan ekspresi yang sama dengan “persetan” dalam konteks kemarahan atau penolakan keras. Contoh: Ketika seseorang terus memprovokasi, Anda bisa berkata:

“Ilā al-jaḥīm!” — Pergi ke neraka!


3. Ungkapan untuk Menunjukkan Ketidakpedulian

طز (ṭuz) Kata ini berasal dari bahasa Turki, namun kini sudah lazim digunakan di dunia Arab. Maknanya adalah ketidakpedulian atau sikap meremehkan sesuatu — mirip dengan ungkapan “bodo amat” atau “tidak peduli” dalam bahasa Indonesia. Contoh: Jika seorang teman mengeluh tentang hal sepele, Anda bisa berkata:

“Ṭuz fīhi.” — Persetan dengan itu.


Perbedaan Konteks dan Nuansa

Penting untuk memahami bahwa tiap ungkapan memiliki tingkat kekasaran dan konteks yang berbeda:

  • إلى الجحيم (ilā al-jaḥīm) dan في ستين داهية (fī sittīn dāhiya) tergolong kasar dan agresif, digunakan dalam situasi penuh emosi atau kemarahan.
  • بالناقص (bil-nāqiṣ) dan طز (ṭuz) bersifat lebih ringan, biasanya untuk menunjukkan sikap cuek, meremehkan, atau ketidakpedulian tanpa niat menyerang.

Mungkin ada benar nya:

bahasa mencerminkan cara berpikir, nilai, dan karakter budaya. Bahkan kata-kata makian atau seruan emosional seperti “persetan” punya padanan dalam hampir semua bahasa di dunia — tapi tiap budaya mengekspresikannya dengan gaya dan tingkat kehalusan yang berbeda.

pembahasan acak silahkan lanjut baca

🌐 Ungkapan Serupa “Persetan” dalam Berbagai Bahasa Dunia

🇬🇧 Bahasa Inggris

To hell with it / To hell with you Secara harfiah berarti “ke neraka dengan itu/kamu.” Maknanya serupa dengan “persetan”, digunakan saat seseorang ingin mengabaikan sesuatu atau menunjukkan ketidaksabaran.

“To hell with the rules, I’m doing it my way.” (Persetan dengan aturan, aku akan melakukannya dengan caraku.) 🗣️ Nada: bisa ringan (frustrasi) sampai keras (marah). Budaya Barat cenderung menoleransi ekspresi langsung seperti ini karena nilai kejujuran dan individualisme.


🇫🇷 Bahasa Prancis

Au diable / Que le diable l’emporte ! Artinya “ke iblis dengannya” atau “semoga iblis membawanya pergi.” Ungkapan klasik yang sering muncul dalam sastra Prancis untuk menunjukkan kejengkelan atau ketidakpedulian.

“Au diable ce problème !”Persetan dengan masalah ini! 🗣️ Nuansa: ekspresif dan elegan, tetapi bisa terdengar agak kuno atau sarkastik dalam percakapan modern.


🇪🇸 Bahasa Spanyol

¡Al diablo! / ¡Que se vaya al demonio! Berarti “ke neraka” atau “biar dia pergi ke iblis.” Digunakan saat marah atau ingin menolak sesuatu secara emosional.

“¡Al diablo con todo esto!”Persetan dengan semua ini! 🗣️ Nada: sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari di dunia Hispanik, mencerminkan gaya bicara penuh emosi dan ekspresi kuat khas budaya Latin.


🇩🇪 Bahasa Jerman

Zum Teufel damit! / Zum Teufel mit dir! Secara literal berarti “ke iblis dengan itu/kamu.” Sama seperti “persetan”, ungkapan ini bisa digunakan untuk meluapkan kejengkelan atau ketidaksabaran.

“Zum Teufel mit dieser Arbeit!”Persetan dengan pekerjaan ini! 🗣️ Nada: tegas, lugas, mencerminkan karakter bahasa Jerman yang kuat dan langsung.


🇷🇺 Bahasa Rusia

К чёрту! (K chyortu!) Berarti “ke setan!” — ungkapan umum dalam percakapan emosional untuk menunjukkan frustrasi atau penolakan.

“К чёрту всё!”Persetan dengan semuanya! 🗣️ Nada: ekspresif, sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, tetapi bisa terdengar kasar tergantung konteks.


🇨🇳 Bahasa Mandarin

见鬼去吧 (Jiàn guǐ qù ba) Artinya “pergi ke hantu” atau “pergilah ke setan.” Biasanya digunakan untuk menolak sesuatu atau seseorang dengan nada kesal.

“让他见鬼去吧!”Biar saja dia pergi ke setan! 🗣️ Nuansa: tidak sekeras versi Eropa, karena norma bahasa Mandarin cenderung lebih menjaga kesopanan dalam ekspresi publik.


🇯🇵 Bahasa Jepang

くそ (kuso) atau 知るか (shiru ka)

  • Kuso berarti “sialan” (setara “damn” atau “shit” dalam Inggris).
  • Shiru ka secara harfiah berarti “mana aku peduli?” — digunakan untuk menunjukkan ketidakpedulian, mirip “persetan!”.

“そんなこと知るか!”Persetan dengan itu! 🗣️ Jepang memiliki budaya berbahasa sopan, jadi makian seperti ini biasanya hanya muncul dalam situasi informal atau ekspresi emosional pribadi.


🇰🇷 Bahasa Korea

제기랄 (jegiral) atau 알게 뭐야 (alge mwoya)

  • Jegiral adalah kata makian yang mirip “sialan!”
  • Alge mwoya berarti “siapa peduli?” — nada ketidakpedulian atau frustrasi ringan.

“알게 뭐야, 그냥 하자!”Persetan, lakukan saja! 🗣️ Menunjukkan gaya bicara spontan khas anak muda Korea modern.


🇮🇹 Bahasa Italia

Al diavolo! / Vaffà! (versi kasar) Al diavolo! berarti “ke iblis dengannya”, digunakan dalam konteks frustrasi.

“Al diavolo tutto!”Persetan dengan semuanya! 🗣️ Seperti bahasa Spanyol, ekspresinya penuh emosi dan gestur, mencerminkan budaya Mediterania yang ekspresif.


🌏 Refleksi Budaya

Menariknya, hampir semua bahasa memiliki padanan “persetan”, tapi perbedaan terbesarnya ada pada tingkat penerimaan sosial dan nuansa budaya:

  • Budaya Barat (Eropa & Amerika) lebih terbuka terhadap ekspresi langsung, bahkan dalam makian.
  • Budaya Asia Timur (Tiongkok, Jepang, Korea) lebih menahan diri; ungkapan emosional sering dibungkus dalam bahasa halus.
  • Budaya Timur Tengah mengekspresikan emosi dengan kuat dan religius — karena konsep “iblis” atau “neraka” sering terkait dengan nilai spiritual.
  • Sementara di Indonesia, “persetan” punya kekuatan emosional tapi tetap terdengar khas lokal — keras, tapi masih bernuansa ekspresif dan bukan penghinaan langsung.

Makian yang Menyatukan Dunia: Padanan Kata “Persetan” dalam Berbagai Bahasa dan Budaya


Bahasa Arab

  • بالناقص (bil-nāqiṣ) – secara harfiah “dengan yang kurang”, menunjukkan sikap tidak peduli.
    > “Bil-nāqiṣ minnak” — Biar saja, saya tidak butuh kamu.
  • في ستين داهية (fī sittīn dāhiya) – “ke enam puluh bencana”, ungkapan yang lebih keras untuk mengabaikan atau menolak secara total.
    > “Fī sittīn dāhiya!” — Persetan dengan semua ini!
  • إلى الجحيم (ilā al-jaḥīm) – “ke neraka”, mirip “go to hell!”.
    > “Ilā al-jaḥīm!”
  • طز (ṭuz) – serapan Turki, berarti “tidak peduli” atau “bodo amat”.
    > “Ṭuz fīhi.” — Persetan dengan itu.

Bahasa Inggris

“To hell with the rules, I’m doing it my way.”
Ungkapan “to hell with it / you” digunakan untuk menolak atau mengabaikan sesuatu secara emosional.

Bahasa Prancis

“Au diable ce problème !” — Persetan dengan masalah ini!
“Au diable” berarti “ke iblis dengannya”.

Bahasa Spanyol

“¡Al diablo con todo esto!” — Persetan dengan semua ini!
Ekspresi penuh emosi khas budaya Latin-Hispanik.

Bahasa Jerman

“Zum Teufel mit dieser Arbeit!” — Persetan dengan pekerjaan ini!
Lugas dan kuat, mencerminkan karakter bahasa Jerman.

Bahasa Rusia

“К чёрту всё!” (K chyortu vsjo) — Persetan dengan semuanya!
Ungkapan umum untuk frustrasi atau penolakan kuat.

Bahasa Mandarin

“让他见鬼去吧!” (Ràng tā jiàn guǐ qù ba!) — Biar saja dia pergi ke setan!
Sikap ketidakpedulian yang dibungkus dalam ungkapan kultural yang lebih halus.

Bahasa Jepang

“そんなこと知るか!” (Sonna koto shiru ka!) — Persetan dengan itu!
“Kuso” atau “shiru ka” – ekspresi informal dalam situasi emosional.

Bahasa Korea

“알게 뭐야, 그냥 하자!” (Alge mwoya, geunyang haja!) — Persetan, lakukan saja!
Ungkapan spontan generasi muda Korea.

Bahasa Italia

“Al diavolo tutto!” — Persetan dengan semuanya!
Dengan intonasi dan gestur khas Italia: ekspresif dan manusiawi.


Refleksi Budaya

Meskipun bentuknya berbeda, inti dari ungkapan-ungkapan ini sama: manusia butuh cara untuk berkata “cukup” atau “tidak peduli lagi”.
- Di Barat: ekspresi langsung dan terbuka dianggap wajar.
- Di Asia Timur: ekspresi sering dikendalikan demi menjaga harmoni sosial.
- Di Timur Tengah: makian dibalut dengan nuansa religius dan puitis.
- Di Nusantara (Indonesia): “persetan” tegas tapi masih ada norma sosial yang menjaga batas-penghinaan.


Penutup

Bahasa adalah jendela ke karakter budaya. Dari satu kata seperti “persetan”, kita menyaksikan bagaimana manusia mengekspresikan frustasi, kemarahan, atau keinginan untuk bebas dari beban. Di balik itu semua ada kesamaan universal: kita semua butuh ruang untuk melepaskan, dan kemudian melanjutkan langkah.